Profile

Categories







Jul

22


Ingat cerita tentang nabi Musa dan Nabi Khidhr? selengkapnya baca Surat Al Kahfi ayat 64-82. Di awal perjalanan, Nabi Khidhr telah mengingatkan bahwa Nabi Musa tidak akan bisa bersabar, karena Nabi Musa belum mempunyai pengetahuan yang cukup akan kejadian yang akan terjadi.

Begitulah, pada setiap kejadian, hampir selalu Nabi Musa berpikiran negatif, semua yang dilakukan Nabi Khidhr selalu dipertanyakan, kenapa anda melubangi perahu yang kita naiki, kenapa anda membunuh anak kecil, kenapa anda membantu membetulkan tembok roboh sebuah rumah yang penduduknya sangat kikir dan pelit. Kenapa?

Seringkali, kita melihat suatu keadaan secara sepotong-sepotong, tanpa kita tahu secara detail kenapa kejadian itu terjadi, dan kenapa seseorang bertindak seperti itu. Seperti halnya Nabi Musa, tidak semua hal yang terjadi dihadapan kita sebaik/seburuk kelihatannya, adakalanya seseorang berbuat sesuatu yang kita nilai tidak baik, tapi tahukah kita sebab musabab kenapa dia melakukan hal itu, kalau mau bertanya pada hati yang paling dalam, siapa sih orang yang pengen hidup menanggung masalah, dikucilkan, dimusuhi, dan dicurigai oleh orang lain? Insya Allah tidak ada.

Dalam islam, kita dilarang keras untuk Su’udzon (berburuk sangka) dan Ghibah (menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seseorang, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan) terhadap manusia lain.

"Rasulullah bersabda : Hati-hatilah kamu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari pada berzina. Ditanya, bagaimanakah? Jawabnya, "Sesungguhnya orang yang berzina bila bertaubat maka Allah akan mengampuninya, sedangkan orang yang ghibah tidak akan diampuni dosanya oleh Allah, sebelum orang yang di ghibah memaafkannya." (HR Albaihaqi, Atthabarani, Abu Asysyaikh, Ibn Abid)

Karena, seperti halnya Nabi Musa melihat perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Khidhr, kita sebagai manusia bisa saja salah dalam menilai suatu keadaan. Meskipun toh kejadian tidak baik yang kita lihat adalah benar, jangan sampai lidah kita tergerak untuk mengatakannya, biarlah Allah yang membukanya untuk kita. Ketahuilah apa yang kamu katakan, karena itu akan dipertanggungjawabkan. Kelak.







0 Response to Prasangka

Leave a Reply

Note: This comment not for HTML format